Di era digital, gawai menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan peserta didik. Namun, ketika digunakan pada waktu yang tidak tepat, gawai dapat mengganggu fokus, konsentrasi, dan interaksi selama pembelajaran. Karena itu, SMK Bhakti Kencana Ciawi (SMK BKC) menerapkan kebijakan pembatasan penggunaan gawai saat kegiatan belajar mengajar.
Melalui kebijakan ini, handphone atau gawai peserta didik dikumpulkan sejak jam pertama hingga jam terakhir pembelajaran dan disimpan di box khusus yang telah disediakan. Setelah kegiatan pembelajaran selesai, gawai dapat diambil kembali sesuai ketentuan sekolah.
Kebijakan ini bukan berarti SMK BKC melarang teknologi. Justru, peserta didik perlu belajar menggunakan teknologi secara cerdas, bijak, dan bertanggung jawab. Gawai tetap dapat digunakan apabila guru memang memerlukannya sebagai bagian dari kegiatan pembelajaran.
Dengan gawai berada di tempat penyimpanan selama proses belajar, peserta didik diharapkan lebih fokus memperhatikan penjelasan guru, aktif berdiskusi, mengerjakan tugas, membaca, berlatih, serta membangun komunikasi langsung dengan teman dan guru.
Pembatasan ini juga menjadi latihan disiplin dan pengendalian diri. Peserta didik belajar bahwa tidak semua hal harus dilakukan setiap saat. Ada waktu untuk belajar, berdiskusi, berinteraksi, dan ada waktu untuk menggunakan teknologi.
Bagi SMK BKC, kebijakan ini merupakan bagian dari upaya menciptakan budaya belajar yang lebih fokus, tertib, dan produktif. Tujuannya bukan sekadar mengurangi penggunaan handphone, tetapi membangun kebiasaan positif yang akan bermanfaat bagi peserta didik di masa depan, termasuk ketika memasuki dunia kerja.
Sebab, kemampuan untuk berkonsentrasi, mengendalikan diri, mengikuti aturan, dan menyelesaikan tugas tanpa terdistraksi merupakan bagian penting dari karakter profesional.
Gawai boleh dekat, tetapi fokus belajar harus lebih dekat.
Bukan Anti-Gawai. Kita Hanya Sedang Belajar Menggunakannya pada Waktu yang Tepat.
SMK BKC — BEDA! Berkarakter dan Siap Kerja.
Tinggalkan Komentar