BIADAB

Please Share

Ilustrasi Biadab

Sebelum kalian membaca cerita ini sampai tamat. Aku ingin memberikan kalian sebuah petunjuk. Bahwa dicerita ini, aku adalah tokoh antagonis. Alias, akulah si penjahatnya.

Harusnya hari ini menjadi hari yang sangat bagus. Aku sangat semangat pagi ini. Selain karena hari ini aku punya jadwal praktik di lab komputer, tapi aku juga bisa internetan karena dilab tersedia wi-fi.

Untuk masuk ke lab ini, memang agak horror. Karena kami sekelas harus meminta izin pada makhluk penunggu ruangan lab ini. Sungguh, horror sekali. Pak Abdul, makhluk penunggu yang untuk minta izinnya saja sudah seperti pertempuran di medan perang. Kami yang dengan susah payah memperjuangkan hak kami, akhirnya berhasil menang di medan pertempuran.

Setelah berhasil masuk ke ruangan ini, aku segera menyalakan kipas angin, wajar saja, aku sampai ke sini bersama sahabatku, dengan berlari. Aku memanfaatkan waktu untuk menjelajahi youtube di komputer, sebelum guru datang. Pertama-tama aku akan login akun gmailku dulu. Alhamdulillah, sekarang aku ingat password gmailku, tidak seperti dulu yang selalu lupa password. Itu salah satu moment menyebalkan yang pernah kualami.

Sambil guru menjelaskan materi untuk USK (Uji Sertifikasi Kompetensi), aku mulai login WhatsApp di komputer. Kuperiksa pesan-pesan satu per satu. Aman. Tidak ada tugas berat dari beberapa grup WhatsApp. Aku bisa sedikit santai. Kini waktunya aku fokus menelan materi-materi yang dibawakan oleh pak Fauzi.

Beberapa jam lamanya aku mengerjakan tugas, akhirnya selesai juga pas dengan suara azan zhuhur. Kami semua lantas pergi ke lapangan untuk salat berjamaah. Selalu saja, harusnya setelah salat zuhur aku dan Marsha bisa pulang. Berbeda dengan hari kemarin yang piket bersama, sekarang hanya aku dan Marsha yang piket. Semua pulang. Terpaksa kami pulang paling akhir lagi, jam berapa? Jam setengah tiga sore kami baru pulang ke rumah. Luar biasa! Lelah yang semoga lillah.


Zara dan Marsha sudah sampai di rumah mereka masing-masing. Pulang sekolah, memang sangat melelahkan. Zara memutuskan untuk tidur terlebih dahulu, lalu mandi. Sedangkan Marsha memutuskan untuk makan es krim terlebih dahulu (karena Marsha cinta es krim).

Waktunya bagi Zara untuk membuka WhatsAppnya yang sudah beberapa jam tak ia kunjungi. Tiba-tiba Zara melihat ada sesuatu yang salah dari chat WhatsAppnya. Dia sama sekali tidak mengerti dengan isi seluruh chat WhatsAppnya, ‘kenapa bisa begini?’ ucap batin Zara.


Kemarin, biarlah berlalu. Sekarang pagi sudah menyapa lagi, alhamdulillah. Zara segera bersiap menuju sekolahnya. Dia tidak tahu ada masalah apa yang sedang menantinya di sekolah. Ya, sudahlah, biar saja, nanti pun dia tahu sendiri.

“Sha, kok aneh ya?” keluh Zara.

“Aneh kenapa, Za? Kamu bicara nggk jelas.” Respon Marsha.

“Nggk. Aku cuma laper aja.”

“Ya makan dong, bukan curhat. Solusi laper itu makan!”

“Aku bukan laper sama makanan.”

“Dimana-mana, kalau laper itu masalahnya sama makanan.”

“Aku laper sama ayat Qur’an, hari ini aku belum baca sama sekali.”

Ma sya Allah, memang Al-Qur’an itu adalah sarapan yang paling mengenyangkan (ruh)”

“Hak tubuh kita makan makanan bergizi, tapi kita nggk boleh lupa sama hak ruh kita, yang butuh sarapan Al-Qur’an.”

“Aku setuju. Al-Qur’an itu memang the best! Btw, kita sudah sampai.” Marsha menepuk pundak Zara.

Alhamdulillah.” Ucap mereka berbarengan.

Di musim covid-19 seperti ini, kita wajib berhati-hati. Caranya? Seperti yang selalu digembar-gemborkan pemerintah, yaitu dengan 3 M, memakai masker, menjaga jarak, dan selalu cuci tangan. Begitu juga yang dilakukan Marsha. Zara? Ya, sama juga sih. ‘Kan mereka kakak beradik (dari orang tua yang berbeda).

Ketika sampai di sekolah, Zara sedikit terkejut dengan tatapan tajam para guru padanya. Dia merasa tidak melakukan kesalahan apapun. Apa ini hanya ilusi Zara saja?

Baru sampa di kelas, Zara harus pergi ke lab karena mereka sekelas akan belajar di lab. Di sekolah ini selalu ada pembiasaan baik 15 menit sebelum memulai pelajaran. Mereka akan disuruh untuk pergi ke lapangan sekolah dan melakukan kegiatan yang sudah dijadwalkan.

Zara tetap meresa tak enak, batinnya punya firasat tidak baik tentang hari ini. Bahkan ketika di lapang pun, Zara sampai tidak fokus memerhatikan sekitar.


Guru dengan raut wajah menyeramkan, yang biasanya menyenangkan, mulai memanggil nama Zara. Terlihat sekali guru tersebut sedang emosi. Zara menghampiri guru tersebut yang mengajaknya menuju sebuah ruangan.

“Zara, apa ini?!’ tanya guru tersebut sambil menyodorkan handphonenya.

“Ada apa, bu?” Zara menekuri handphone guru tersebut.

Astaghfirullah!. Saya nggk tau, bu, ada pesan kasar masuk ke WhatsApp ibu atas nama saya. Wallahi, bu. Kemarin saya juga sempat heran dengan WhatsApp saya yang agak berbeda, saya kurang tau ada apa dengan ini semua.”

“Kamu kirimkan pesan kasar yang menjelek-jelekkan guru ini, kesemua guru sekolah. Apa kamu kemarin meracau?”

“Nggk bu, saya nggk tau apa-apa.”

“Yakin? Oke, ibu sudah dapat klarifikasinya. Nanti sisanya ibu selidiki sendiri. Sekarang kamu boleh kembali ke kelas.”

“Maaf, bu. Ke ruang lab, saya lagi praktik.”

“Ouh, oke.”

Sekarang Zara tahu. Kemarin WhatsApp miliknya telah dihack.

Dan sebab itu, para guru dan teman Zara mulai merasa jijik padanya.


“Za, kemarin kamu kirim apa ke WhatsAppku?” ekspresi Ara sudah tidak dapat menolongku.

“Memang aku kirim apa, Ra?”

“Kamu udah ngehina aku terang-terangan, dan kamu bilang kita perang.”

Astaghfirullah. Siapa yang udah ngelakuin itu? Aku sama sekali nggk tau. Dari kemarin WhatsAppku aneh banget, Ra.”

“Kamu juga ngomong kasar ke aku, Za.” Deva bersuara, diiringi dengan teman lainnya, Hesty dan Syfa mengadu padaku. Siapa yang sudah melakukan ini atas namaku?

“Beneran bukan kamu, Za? Suaranya mirip banget kamu, kemarin juga kamu kirim voice note ke gue.” Yana tak kalah membuatku resah.

Baiklah, berarti benar. Ada yang meng-hack WhatsAppku, tapi bagaimana bisa?

“Coba kamu cek WhatsApp Web, masih terhubung komputer atau nggk, jangan-jangan belum logout?” saran Noerman ada benarnya. Coba ku cek ke hp dan komputer lab yang sering kupakai. Dan ternyata…

MASIH TERHUBUNG!

Tapi siapa yang berani hack WhatsApp aku?!


“Maaf ya, kemarin sore aku nggk sengaja iseng nge-hack WhatsApp kamu, kayaknya seru. Bener aja, seru banget!” Noerman dengan santainya mengakui. Dia lupa, kalau kemarin dia sudah dikuasai oleh karakter Yasmin yang ada pada Zara. Zara tetap Zara, tapi jika Zara sedang tidak sadar, antara karakter Gul, Halwatuzahra, Yasmin, Sherly, Elang, atau Marvel yang muncul dan mengganggu.

Zara pengidap kepribadian ganda. Pasien para psikiater.

Tamat

*cerita hanya fiktif

*cerita memakai 2 sudut pandang


Dengan nama pemberian Devi Try. Aku lahir di kota metropolitan, Jakarta, pada tanggal 23 yang merupakan bilangan ganjil kesukaanku. Selalu mengaku cinta mawar merah, tapi nggk pernah melihara. Katanya ceria dan humoris, tapi nggk lucu. Serius vs bercanda. Ramah vs suka marah-marah. Karakter? Anak sulung banget. Lagi ngejar ridha Allah.

Devi Try

Terima kasih.


Devi Try

Devi Try

Beri Komentar

Baca Cerpen Lainnya