Karya: Rosma khoerunnisa Dan Muhammad Fadil Hamizan
Some people think that it might be impossible, but what is impossible if God wills it?
Pada dasarnya kita bisa hidup karena Tuhan, tapi.. mengapa engkau berpikir Tuhanmu telah meninggalkanmu?
Padahal matahari yang selalu terbit dan terbenam masih kau nampak di langit sana kenikmatan yang tiada duanya dari Tuhanmu tapi engkau menyia-nyiakannya.
But dalam bahasa sastra :
“Dalam gempuran ombak dengan badai yang bergemuru di sepanjang perjalanan kapal. Sang kapten telah menemukan sang matahari di ujung cakrawala. Ia nampak begitu indah tetapi sulit bagi kami menggapainya. Burung-burung camar mulai terlihat wangi pesisir pantai dengan pasir-pasir putih yang mengelilinginya. Dimana lagi engkau mencari kenikmatan setelah badai dan gempuran ombak, tetapi engkau malah berbalik arah menuju ombak kuat itu karena merasa tidak pantas menerimanya”
Kehidupan memang kerap kali seperti perahu kecil yang terombang-ambing di tengah riuh nya gelombang masalah yang datang sebagai ujian yang tak pernah henti, menghantam tiang harapan dan cita-cita. Di tengah keraguan dan kehampaan, hati melirih meminta bantuan-Nya, Secercah cahaya lembut bak obor kecil yang menolak padam. Ia tidak menjanjikan jawaban cepat, melainkan memberi kehangatan yang cukup untuk terus melangkah. Meski perlahan, namun itu cukup untuk selalu mengingat bahwa badai bukan tempat berakhir, melainkan tempat ditempa.
Kehidupan bukanlah laksana batu yang tak pernah berubah, mainlah ia hidup, dan belajar. Menari bersama angin, terhempas lalu kemudian bangkit lagi, seperti daun yang mengikuti arah udara namun tak pernah kehilangan ranting asalnya. Karena tidak semua keteguhan hadir dengan kekuatan, kadang ia datang dalam bentuk keberanian kecil untuk tetap bertahan meski arah belum tampak, maski hati belum tenang.
Dan pada akhirnya penerimaan adalah bagian dari keberanian hingga suatu saat kedamaian itu benar-benar berlabuh tanpa tergesa.
Maka, tumbuhlah engkau tumbuh
Dibelahan bumi manapun
Dalam peluk kasih-Nya!
Qaf ayat 6:
وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْاِنْسَانَ وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهٖ نَفْسُهٗ ۚوَنَحْنُ اَقْرَبُ اِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيْدِ
Artinya :”Dan sungguh, Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.”
Tinggalkan Komentar