Nama : Muhammad Fadil Hamizan
Kelas : XF/10 Farmasi
Catatan : ini adalah kisah nyata seorang temanku yang ku rakit ulang menjadi cerita yang baru.
Aku hidup di keluarga yang cukup berantakan, setiap hari sebuah pertengkaran sudah seperti hal yang biasa di rumah ini, aku merasa muak tetapi aku tidak bisa menghentikannya.
Suatu waktu aku di pindahkan ke sebuah sekolah baru, kukira di sekolah baru adalah tempat yang aman bagiku. Tetapi kenyataannya semua orang membicarakanku, aku tidak mempunyai seorang teman yang benar-benar dekat denganku lalu seorang anak membully ku dengan kata-kata kemudian aku membalasnya.
Lalu teman teman yang lain datang dan malah membelanya, ia begitu menikmatinya aku merasa kalau aku terlalu di pojokkan saat aku ingin kabur, ada guru yang berjalan melewati lorong lalu aku hendak melaporkannya tetapi.
Sebuah kain membungkam mulutku. Lalu aku di bawa ke sebuah gudang dan di bully habis habisan. Aku pulang dengan badan penuh babak belur dan suara pertengkaran orang tuaku yang belum selesai berhenti.
Aku menangis sendirian di kamarku. Tanpa adanya seseorang yang membantuku, suatu ketika saat aku pulang sekolah dengan wajah muram seorang keluargaku yaitu bibiku yang memiliki pekerjaan sebagai psikolog menemuiku, lalu bertanya “kamu gapapa?” aku menjawabnya sambil tersenyum.
Tetapi, senyuman itu terlihat aneh karena aku tersenyum sambil menunjukkan dibawah mataku terlihat mata panda yang hitam dan aku yang sedang tersenyum seperti di paksa.
Ia membawaku ke rumahnya, ia menanyakan apa yang terjadi denganku. Aku tidak menjawabnya tetapi ia tiba-tiba menebak semua isi kepalaku.
Aku sontak menahan senyumanku, tetapi itu tidaklah mungkin lalu aku airmataku berlinang aku berteriak, aku merasa sakit aku merasa jika penderitaan ku terlalu berat di usiaku ia memelukku, menahanku saat diriku berteriak ia mengelus kepalaku.
Aku merasakan seolah dunia hancur, aku ingin menyerah tetapi ia segera menguatkanku untuk segera bangkit, aku menolaknya tetapi ia memegang tanganku sambil tersenyum seperti membuat suatu harapan baru untukku.
Begitu pulang, seisi rumah menyambut bibiku dan terlihat bunda dan papaku masih tidak mau menatap wajah satu sama lain. Bibiku menyuruhku kembali ke kamar, entah apa yang ia ceritakan.
Lalu, pada satu saat aku di persilahkan keluar, bunda dan papaku menangis dan memelukku melontarkan kata permintaan maaf dan terimakasih sudah bertahan sejauh ini. Aku kebingungan dengan semua ini, ini terasa seperti mimpi bagiku.
Tetapi sayangnya. Keesokan harinya papaku menghembuskan nafas terakhirnya, seisi keluarga penuh suka, aku menangis menahan rasa sakitku yang terulang. Sekarang aku merasa jika semua ini sia-sia.
Mulai dari sama bundaku menjadi sosok papa dan sosok bunda sekaligus, aku merasa sejak hari itu semuanya merasa sepi. Sampai suatu ketika bundaku menangis karena teringat oleh mendiang papaku, aku memeluknya aku meminta maaf kepadanya karena merasa jika ini salahku. Lalu ia menolak pernyataanku, ia menyuruhku menjadi seseorang yang kuat sepertinya. Ia menyuruhku menjadi seseorang yang kuat dan tabah.
Setelah itu berlalu, kami menjadi dekat kami menjadi sering cerita satu sama lain dan menceritakan tentang kisah muda mereka pada saat papaku masih hidup, kami tertawa bersama dan memulai hidup baru yang bahagia.
Tamat.
Tinggalkan Komentar